Labels

Selasa, 09 April 2013

Masalah Sosial (Mabuk-mabukan dan Minuman Keras)



BAB  I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk monodualis yaitu makhluk yang terdiri dari beberapa kodrat tetapi tetap merupakan satu kesatuan, terdiri dari susunan kodrat yaitu jiwa dan raga, sifat kodrat manusia yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, serta kedudukan kodratnya sebagai makhluk Tuhan dan makhluk yang berdiri sendiri.. Dalam kaitannya dengan materi yang kita pelajari, maka sifat kodrat manusialah yang akan dibahas lebih lanjut yaitu, manusia sebagai makhluk individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena manusia itu hidup di tengah-tengah manusia lain atau hidup dalam suatu komunitas yang disebut masyarakat. Dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat, di situ ada prinsip saling ketergantungan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Setiap individu berkepentingan dengan individu-individu lain dalam kelompoknya sendiri maupun di luar kelompoknya. Dalam kehidupan sehari-hari rasa berkepentingan itu tersalurkan melalui proses sosialisasi dan interaksi sosial. Proses sosialisasi merupakan suatu proses pembelajaran sejak anak itu masih kecil dengan tujuan untuk membentuk kepribadiannya. Interaksi sosial terjadi ketika anak itu mulai bergaul dengan orang lain baik dalam lingkungan keluarganya sendiri maupun dengan orang lain atau masyarakat di luar lingkungan keluarga.
Tuntutan hidup saat ini sudah sedemikian tingginya. Waktu 24 jam dianggap kurang untuk mengembangkan bisnis dan usaha. Hasilnya, tidak ada waktu tersisa untuk mengamati fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi. Rasanya wajar untuk merasa kasihan kepada golongan masyarakat seperti ini. Dinamika masyarakat dan isu sosial berkembang sangat cepat. Bila terlalu sibuk mengurusi pekerjaan, kita bisa ketinggalan berita! Hampir semua masalah sosial dipotret. Mulai dari kenakalan remaja , kelakuan para pejabat yang korupsi, rendahnya kepedulian pada anak yatim, sampai budaya gengsi yang makin lama makin terlalu. Semua diceritakan dalam diksi yang sesederhana mungkin. Remeh tapi dalam. Singkat, tapi bermakna.
Minuman keras telah menjadi masalah dunia. Baik di Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, Eropa, Asia, Australia maupun di mana saja manusia hidup, bahkan di antara suku-suku bangsa primitif di pulau- pulau terpencil pun kecanduan alkohol telah menjadi salah satu persoalan hidup manusia yang utama. Kecanduan minum-minuman keras menghancurkan kehidupan keluarga, pekerjaan, merusak tubuh, dan menjadi sebab utama dari segala macam perbuatan kriminal. Sedikit sekali tempat di bumi ini yang terbebas dari pengaruh yang merusak ini.
Sebenarnya, hampir setiap orang dapat menjadi orang yang hidupnya bergantung (dependent) kepada obat-obatan, khususnya alkohol. Kecanduan biasanya terjadi jikalau orang yang bersangkutan terus- menerus membiasakan minum-minuman keras dalam takaran yang tinggi. Tetapi mengapa ada jutaan umat manusia yang minum-minuman keras dalam acara-acara sosial tetapi tidak menjadi kecanduan, sedangkan yang lain kira-kira 10% dari semua peminum terjebak menjadi pecandu? Ratusan ahli telah mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Seorang peminum tidak mampu mengendalikan keinginannya akan minuman keras, dan sebagai akibatnya ia mengkonsumsi dengan berlebihan. Ini akan memperparah masalah-masalah seputar kehidupannya juga sifat kepribadiannya. Dalam Usahanya untuk menutupi kekurangannya, ia cenderung untuk bertindak over akting. Dia membutuhkan minum untuk dapat mulai bekerja pada pagi hari, juga di tempat kerjanya ia akan minum. Setiap saat ia akan terbelenggu oleh nafsu yang tak terkendali untuk minum.  Sekali seorang pemabuk telah berhenti minum minuman keras, ia selamanya tidak boleh lagi mencicipinya walaupun sedikit. Bagi orang awam hal ini dianggap sebagai tindakan yang ekstrim. Tapi dalam banyak kasus-kasus telah terbukti bahwa seorang pemabuk tidak dapat minum minuman keras lagi, tanpa jatuh lagi menjadi pemabuk. Karena itu konselor harus mempunyai tujuan akhir untuk menolong pemabuk itu memiliki tekad kuat untuk menolak minum minuman keras sama sekali dan menjadikannya juga gaya hidupnya. Pada umumnya seorang pemabuk telah merasa bersalah karena itu janganlah menuduh atau memalukannya. Dia sadar sadar mengapa berhenti minum, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Jangan menuduhnya, tapi doronglah agar dia mau menerima pemulihan dengan Allah.
Dari uraian diatas maka penulis berasumsi untuk membuat makalah yang berjudul “ Permasalahan Sosial Yang Aktual ( Minuman Keras )”.
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini adalah “Pengertian Permasalah Sosial , Masalah-masalah Sosial di Lingkungan Sekitar , Akibat Dan Bahaya Minuman Keras , Alasan Dan Penyebab Seseorang Minum Minuman Keras , Solusi Untuk Menghadapi Maraknya Minuman Keras”.
Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada :
1.      Pengertian Permasalah Sosial
2.      Masalah-masalah Sosial di Lingkungan Sekitar
3.      Akibat Dan Bahaya Minuman Keras
4.      Alasan Dan Penyebab Seseorang Minum Minuman Keras
5.      Solusi Untuk Menghadapi Maraknya Minuman Keras

BAB  II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Permasalah Sosial
Dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat, manusia harus mengemban nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku sebagai penuntun atau pedoman dalam kehidupannya. Oleh karena itu berbicara mengenai nilai berarti kita berbicara tentang hal-hal yang ideal atau das sollen yaitu sesuatu yang seharusnya, bukan das sein atau sesuatu yang senyatanya terjadi. Namun dalam kenyataannya ada orang atau sekelompok orang yang dengan sengaja dan sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang akan menimbulkan kesenjangan dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah dalam masyarakat. Apabila masalah-masalah itu menjadi berlarut-larut, maka gejala atau kenyataan itu akan menjadi masalah sosial. Jadi yang dimaksud dengan masalah sosial adalah kesenjangan antara das sollen yaitu sesuatu yang seharusnya ada dengan dassein yaitu sesuatu yang senyatanya terjadi.
B.   Masalah-masalah Sosial di Lingkungan Sekitar
Masalah-masalah sosial akan diklasifikasikan ke dalam tiga aspek, yaitu masalah sosial dalam lingkup lokal, masalah sosial dalam lingkup nasional, dan masalah sosial dalam lingkup internasional. Agar pemahaman anda lebih jelas, silahkan menyimak penjelasan-penjelasan berikut ini.
Masalah-masalah sosial dalam lingkup lokal adalah masalah-masalah yang dialami oleh seseorang maupun sekelompok orang dalam interaksinya dengan orang lain atau masyarakat. Masalah-masalah sosial ini dapat berupa, kemiskinan, kejahatan atau kriminalitas, kenakalan remaja, masalah keluarga, pengangguran, pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan masalah-masalah sosial dalam lingkup nasional adalah masalah-masalah sosial yang dialami oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam suatu wilayah tertentu.
Namun akibatnya akan dirasakan oleh seluruh bangsa dalam suatu wilayah negara. Sebagai contoh, masalah kemiskinan, pengangguran, kependudukan, lingkungan, konflik sosial yang akan berakibat pada perpecahan bangsa atau disintegrasi bangsa. Masalah-masalah sosial dalam lingkup internasional adalah masalah-masalah sosial yang terjadi dalam suatu wilayah negara, namun akibatnya akan dirasakan oleh negara-negara lain. Jadi bukan hanya negara yang bersangkuan saja yang akan merasakan akibatnya, tapi juga akan berdampak lebih luas sampai ke negara-negara lain. Masalah-masalah sosial dalam lingkup internasional ini misalnya, masalah lingkungan, terorisme, dan sebagainya. Apabila kita cermati lebih jauh, maka sebetulnya antara masalah sosial yang satu dengan masalah sosial yang lain itu saling berkaitan, karena dari masalah yang satu bisa menimbulkan masalah yang lain. Selain itu antara masalah sosial dalam lingkup lokal, nasional, dan internasional pun juga saling berkaitan. Artinya, masalah sosial dalam lingkup lokal bisa menjadi masalah nasional, dan masalah sosial dalam lingkup nasional pada suatu saat bisa menjadi masalah sosial dalam lingkup internasional.
Ada beberapa pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat, yaitu:
1.      pendekatan ekologi
2.      pendekatan sistem
3.      pendekatan interdisipliner / multidisipliner
C.   Akibat Dan Bahaya Minuman Keras
Seorang yang minum minuman beralkohol akan sering buang air kecil sehingga menimbulkan rasa haus. Orang ini akan mengatasi rasa hausnya dengan minum minuman beralkohol lagi. Alkohol hanya mengandung energi, tetapi tidak mengandung zat gizi lain.
Kebiasaan minum minuman beralkohol dapat mengakibatkan:
1.      Terhambatnya proses penyerapan zat gizi,
2.      Hilangnya zat-zat gizi yang penting, meskipun orang tersebut mengkonsumsi makanan bergizi dalam jumlah yang cukup
3.      Kurang gizi,
4.      Penyakit gangguan hati,
5.      Kerusakan saraf otak dan jaringan,
6.      Di samping itu, minum minuman beralkohol dapat menyebabkan ketagihan dan kehilangan kendali diri. Hal ini dapat menjadi faktor pencetus ke arah tindak kriminal
Alkohol membinasakan rumah tangga; mengubah anak-anak muda yang penuh semangat menjadi manusia yang tidak mempunyai harapan. Mengubah kaum laki-laki menjadi berandalan. Mengubah kaum wanita menjadi manusia telantar. Menghancurkan yang lemah dan melemahkan yang kuat. Alkohol telah membunuh lebih banyak jumlah manusia dibandingkan dengan jumlah semua korban peperangan di seluruh dunia.Orang mengatakan bahwa alkoholisme itu merupakan suatu penyakit. Akan tetapi Alkitab berkata bahwa alkohol itu adalah akibat dosa. Orang tidak akan mungkin membeli suatu penyakit sampai berbotol-botol, juga tidak menyuguhkannya dalam pesta-pesta. Penyakit tidak akan mencegah seseorang untuk dapat masuk surga, tetapi alkohol dapat mencegah orang untuk masuk surga.
Alkohol sejauh ini merupakan obat yang paling buruk akibatnya di dunia, sejauh menyangkut jumlah korbannya yang mendapat cedera serta terbunuh. Di Amerika Serikat, alkohol merupakan pembunuh nomor satu. Minuman keras ini merusak sel-sel otak yang tidak akan pernah bisa pulih kembali dan buruk sekali pengaruhnya terhadap kesehatan jantung dan liver. Alkohol untuk sementara dapat menimbulkan kerusakan pada pandangan mata, kemampuan berbicara serta koordinasi segala organ tubuh dan bisa menimbulkan kecenderungan mengurangi rasa malu dan rasa bersalah. Orang menghabiskan waktu sampai bertahun-tahun lamanya serta menghabiskan jumlah uang yang tidak sedikit jumlahnya untuk memperoleh pendidikan yang pantas, menduduki kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, mencapai sukses dalam jabatan profesi atau usaha dagang, meraih pangkat yang tinggi dalam bidang tata urutan pangkat kemiliteran, dan sebagainya. Namun setelah minum alkohol sampai beberapa kali saja maka orang itu akan merosot menjadi manusia dungu, yang sama sekali tidak dapat menguasai jalan pikirannya serta tubuhnya, jauh di bawah kemampuan seorang murid taman kanak-kanak.
Miras bukan hanya mengakibatkan korabnnya tewas. Penenggak miras bisa berbuat jahat yang sejahat-jahatnya. Contohnya berita ini: ”Dengan membobol atap, sang oknum masuk ke dalam kamar kos dan menyelinap ke dapur untuk mengambil sebilah pisau. Dengan pisau inilah, sang oknum yang kala itu mengenakan cadar menodong sang remaja putri hingga akhirnya terjadi perkosaan. Usai memperkosa, sang oknum menjarah TV, DVD, dan barang elektronik kemudian meninggalkan lokasi dengan sebuah mobil taxi”.
Begitu dahsyatnya pengaruh miras terhadap diri seseorang (seperti kasus-kasus sangat merisaukan masyarakat yang akan diungkap di tulisan ini), maka tidak ada alasan untuk membiarkan berbagai miras beredar.. Kalau ada tanda-tanda menenggak miras atau mengedarkan, memproduksi, menyimpan, menjajakan dan membantu pengadaannya; maka perlu ditangkap, sebagaimana menguber teroris. Miras bukan sekadar merusak raga, otak, jiwa pelakunya belaka, tetapi merusak orang-orang yang dijadikan korbannya. Entah itu perkosaan, pembunuhan, ataupun pencurian dan kejahatan lainnya.
Dalam Islam minuman keras atau khamr itu telah dinyatakan sebagai induk kekejian.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan tegas:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ وَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِىَ فِى بَطْنِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ». وَاللَّفْظُ لأَبِى عُمَرَ الْقَاضِى.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Khamr itu adalah induk keburukan (ummul khobaits) dan barangsiapa meminumnya maka Allah tidak menerima sholatnya 40 hari. Maka apabila ia mati sedang khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dalam keadaan bangkai jahiliyah. (HR At-Thabrani, Ad-Daraquthni dan lainnya, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ hadits nomor 3344).
Allah Ta’ala telah melarang keras khamr dengan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٩٠﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿٩١﴾
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.091. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS Al-Maaidah: 90, 91).
Secara terinci, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dilaknatnya orang-orang yang berkaitan dengan khamr:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَ إِلَيْهِ ». زَادَ جَعْفَرٌ فِى رِوَايَتِهِ :« وَآكِلَ ثَمَنِهَا ». حديث ابن عمر : أخرجه أبو داود (3/326 ، رقم 3674) ، والحاكم (4/160 ، رقم 7228) وقال : صحيح الإسناد . والبيهقى (6/12 ، رقم
Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah melaknat khamr (minuman keras) , peminumnya, penuangnya (pengedarnya), penjualnya, pembelinya, pemerasnya (pemroses membuatnya), orang yang minta diperaskannya (minta dibuatkannya), pembawanya, dan orang yang dibawakan kepadanya.” Ja’far dalam riwayatnya menambahkan: “dan pemakan harganya.” (Hadits Ibnu Umar dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 3674 –dishahihkan oleh Al-Albani–, Al-Hakim no. 7228, ia berkata sanadnya shahih, dan Al-Baihaqi no. 10828, lafal ini bagi Al-Baihaqi).
Minuman keras alias khamr yang memabukkan, menimbulkan reaksi yang sangat dahsyat. Antara lain mendorong konsumennya yang sudah dalam keadaan mabuk untuk melakukan tindak perkosaan.
D.   Alasan Dan Penyebab Seseorang Minum Minuman Keras
Ada banyak alasan yang dikemukakan orang mengapa mereka minum alkohol, yakni:
1.      Untuk mengatasi rasa sedih dan batin yang tertekan;
2.      Untuk melenyapkan rasa tidak aman terhadap dirinya;
3.      Untuk melenyapkan rasa rendah diri;
4.      Untuk mencapai tingkat kelegaan yang santai;
5.      Untuk melarikan diri dari alam yang nyata;
6.      Sebagai alat perangsang
Memang tidak ada jawaban yang mudah meskipun kita dapat menyimpulkan, bahwa ada beberapa penyebab yang bisa membawa orang pada kebiasaan minum minuman keras tersebut antara lain :
1.       Perasaan tertekan
Banyak orang tergoda untuk minum-minuman keras pada saat mengalami tekanan hidup yang berat. Mula-mula alkohol memang menolong peminum melupakan persoalan-persoalan hidupnya, memberikan perasaan tenang dan nyaman. Tetapi apa yang mula-mula cuma menjadi penolong sementara itu kemudian dipakai secara terus-menerus, setiap kali merasa tertekan, kuatir, susah, dan sebagainya, sampai menjadi kecanduan.
2.       Kebudayaan dan latar belakang kehidupan
Keluarga dan masyarakat di mana seseorang dibesarkan dapat mempengaruhi sikap orang tersebut dalam menjadi pecandu minuman keras. Kalau orangtua adalah pecandu minuman keras, maka anaknya cenderung menjadi peminum minuman keras pada masa dewasanya. Kalau minum-minuman keras menjadi acara sosial dalam kebudayaan tersebut, dan kalau masalah menjadi mabuk cuma merupakan bahan gurauan, peminum tak punya alasan sama sekali untuk menghindarkan diri dan mengontrol pemakaiannya.
3.        Kepribadian seseorang
Pecandu minuman keras biasanya adalah orang-orang yang selalu gelisah, dengan emosi yang tidak matang, dan tak dapat menghadapi frustasi. Biasanya mereka sulit menerima otoritas orang lain, cenderung perfeksionistik, dan selalu merasa terasing di lingkungan masyarakat. Masalah harga diri seringkali menonjol dimana mereka cenderung punya perasaan rendah diri meskipun seringkali dicoba ditutupi dengan lagaknya mendemonstrasikan kepercayaan pada diri sendiri yang berlebihan. Meskipun gejala-gejala ini nampak setelah mereka menjadi peminum, sebenarnya gejala-gejala tersebut menjadi penyebab dari kecenderungannya untuk menjadi peminum.
4.        Bakat jasmani
Apakah benar, bahwa ada orang-orang yang kondisi tubuhnya terlalu peka terhadap alkohol? Memang mungkin demikian meskipun sebenarnya bukan kondisi fisik itulah yang menyebabkan seseorang menjadi peminum. Kalau seseorang membiasakan diri dengan minum-minuman keras, dengan sendirinya tubuh menjadi terbiasa dengan rangsangan- rangsangan alkohol tersebut. Untuk mencapai perasaan puas seringkali dosis minuman keras itu harus ditambah, sampai suatu saat tubuh menjadi begitu bergantung kepada minuman keras tersebut supaya dapat memberi reaksi yang menyenangkan perasaan. Kemudian, si peminum itu menjadi kecanduan secara jasmani ataupun kimiawi, sehingga sulit sekali untuk dapat diubah kembali.
5.        Keadaan rohani
Al-qur’an banyak memberikan kesaksian tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan mabuk. Salah satu penyebab utama dari penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol adalah keadaan rohani yang tidak sehat, dan kevakuman rohani ini adalah gejala umum yang terdapat pada manusia zaman ini..”
6.        Keadaan keluarga
Pada saat satu anggota keluarga terjerat oleh minuman keras, seluruh keluarga menjadi korban. Mula-mula keluarga tersebut berusaha mengabaikan atau melupakan persoalan itu. Kemudian mereka berusaha untuk mencegah dengan menyingkirkan minuman keras dari rumah tangga tersebut atau dengan memarahi peminum tersebut. Seringkali keluarga berusaha menutup-nutupi persoalan itu dengan pengharapan dapat berhenti dengan sendirinya. Padahal ini jarang sekali dapat terjadi. Peminum membuat banyak janji untuk tidak minum lagi, tetapi jikalau ia sudah kecanduan, masalah menghentikannya menjadi begitu sulit, sikap keluarga makin keras, ketegangan-ketegangan muncul dalam rumah tersebut, dan biasanya peminum tersebut justru semakin mendambakan minuman keras. Jadi, sikap keluarga yang tujuannya baik itu biasanya justru memperkuat keinginan peminum untuk meneruskan minum.

E.   Solusi Untuk Menghadapi Maraknya Minuman Keras
Ada tiga level dalam kaitannya dengan solusi mencari jalan keluar dari masalah penyalahgunaan narkoba. Pertama, pada level individu; kedua, pada level masyarakat; dan ketiga, pada level pemerintahan.
Di dalam level individu berarti masing-masing individu marasa perlu meyakinkan dirinya bahwa ditinjau dari sudut mana pun, mengkonsumsi narkoba, mafsadat-nya (kerusakannya) jauh lebih besar daripada maslahat-nya (kebaikannya). Jika sadar demikian, maka jangan merusak diri (dari segi ekonomi, segi kesehatan, nama baik secara sosial, maupun dari kasih sayang Tuhan). Menghadapi masalah dengan cara mengkonsumsi narkoba, adalah bukan penyelesaian tetapi pelarian diri. Orang yang melarikan diri dari masalah, di samping dapat dikategorikan sebagai pengecut juga akan menimbulkan massalah baru. Massalah baru itu (apalagi kalau sudah ketagihan) akan berisiko perkepanjangan. Hidup hanya sekali, mengapa tidak menjadikan hidup ini berarti? Jadi, bagi yang belum, “jangan ada keinginan coba-coba”. Bagi yang sudah, “hentikan saat ini juga. Hapuslah keburukan dengan malakukan kebaikan”.
Kebaikan-kebaikan itu di antaranya ialah “ berpikir positif’. Ingat pada setiap kesulitan, selalu ada jalan keluarnya. Jika tidak tahu, bertanyalah kepada ahlinya. Jika tahu bahwa orang yang lari ke narkoba di antaranya karena kondisi resah menghadapi masalah hidup seperti persaingan, sulitnya mencari pekerjaan, rendahnya pandapatan, tidak cukupnya biaya untuk memenuhi kebutuhan, maka tugas mulia kita adalah jangan menciptakan keresahan bagi orang lain. Seperti nasihat orang Jawa : paring pangan marang wong kang luwe; pareng banyu marang wong kang ketelak; paring sosok marang wong kang kawudan; paring teken marang wong kang kaluyon; lan paring obor marang wong kang kepetengan”. Di sinilah arti kemanusiaan kita terujudkan, dan di sini pula tinggi rendahnya harga kita yaitu seberapa besar memberi manfaat bagi (kehidupan) orang lain, seperti sabda Rosul: Khoirun naas anfa’uhum lin naas.
Pada level masyarakat, bisa dimulai dari skala kecil seperti keluarga, sampai masyarakat dalam arti luas dan kompleks. Pada skala keluarga, kondisi yang bisa dibangun untuk membentengi anggota keluarga dari kemaksiatan mengkonsumsi narkoba, bisa dimulai dari kepala keluarga (ketua somah). Ciptakan komunikasi saling menghargai dan menghormati sehingga masing-masing di antara anggota keluarga merasakan aroma baiti jannati (rumahku adalah surgaku). Bagaimanakah kalau yang mengkonsumsi narkoba justru kepala somahnya? Jawabnya, “hentikan dan bertobatlah!”.Pada skala masyarakat, ini mungkin agak sulit ketika kondisi sosial dewasa ini semakin tidak jelas, dalam arti standart nilai dan norma keadilan, hukum, sosial poltik dan sosial ekonomi termasuk kontrol sosial mulai melemah. Carut marutnya kondisi demikian, dalam satu segi, perlu dipahami sebagai masa transisional, tetapi dalam segi yang lain, justru dari sinilah kita perlu mempertegas peran dan tugas moral kita yakni amar ma’ruf nahi mungkar. Jadi tidak cukup hanya berusaha berbuat baik tanpa diikuti dengan (ikut) mencegah wabah kemungkaran yang berlangsung di lingkungan kita. Bukankah addinu nasihat ?
Untuk bergerak ke arah nahi mungkar berdasarkan konsep addinu nasihat tadi, perlu adanya strategi, yaitu identifikasi masalah, analisis munculnya masalah, alternatif-alternatif pemecahan, dan distribusi dan tugas koordinasi secara lintas sektor.
Pada akhirnya pada level ketiga(pemerintah), tugas seperti itu bisa dimulai oleh negara yang direpresentasikan oleh pemerintah (daerah). Dari sinilah rumah besar kita. Sebagai rumah besar, apakah kita rela kalau sebagian dari para penghuninya mengidap penyakit? Semoga mereka yang diberi amanah, tidak justru sebagai pengidap dan penyebar penyakit itu sendiri
Mengingat maraknya/populernya minum minuman keras maka agar bangsa indonesia terhindar dari minum minuman keras yang perlu kita lakukan adalah :
A.    Melakukan Bimbingan/konseling kepada pecandu minuman keras
Tidak mudah untuk memberikan konseling kepada pecandu minuman keras dan keluarganya. Seluruh proses harus dijiwai dengan banyak doa dan kebergantungan pada pimpinan dan kuasa Roh Kudus.
Para ahli percaya bahwa perkembangan yang dicapai biasanya lambat sampai peminum itu sendiri benar-benar mengambil keputusan untuk berhenti minum. Kadang-kadang, keluarganya mengambil keputusan untuk tidak lagi melindungi peminum itu sampai orang itu sendiri melihat akibat-akibat yang parah dari tingkah lakunya. Perubahan tidak pernah benar-benar terjadi sebelum peminum membentur garis yang terbawah, mengalami akibat yang begitu menyedihkan dari perbuatannya, dan mengakui bahwa dirinya tak dapat dikendalikan lagi.
Paling sedikit ada lima sasaran yang harus diperhatikan pelayanan konseling bagi pecandu alkohol:
1.      Membuat pecandu menghentikan kebiasaannya sama sekali.
2.      Memperbaiki kerusakan-kerusakan tubuhnya akibat dari kecanduannya.
3.      Menolongnya untuk menemukan cara bagaimana dapat mengatasi tekanan dalam hidupnya.
4.      Menolongnya menggunakan pengganti alkohol yang tidak menimbulkan efek-efek sampingan.
5.      Menolong membangun kembali harga diri dan mengatasi rasa bersalahnya secara sehat.
Dua hal yang pertama merupakan tanggung jawab dokter. Jikalau jasmani orang tersebut sudah sedemikian bergantung kepada rangsangan alkohol, ia tidak dapat menolong dirinya sendiri tanpa pertolongan seorang dokter, sedangkan konselor-konselor lebih efektif dalam menghidupkan semangat yang baru, menolong konseli mengatasi rasa bersalahnya dan mengalami pengampunan, mengajar konseli bagaimana menghadapi tekanan-tekanan hidupnya dan perasaan tidak berharganya, memberikan semangat untuk dapat menerima dan memperbarui cara hidupnya, menolong keluarganya dalam penyesuaian diri kembali, dan meyakinkan konseli, bahwa hanya Kristuslah yang dapat mengisi kekosongan hidupnya (Efesus 5:18). Dalam proses bimbingan itu konseli biasanya jatuh bangun, ada saat-saat di mana dia jatuh lagi dalam minuman keras yang diikuti dengan kekecewaan dan sikap menghukum diri sendiri. Tetapi pada waktunya, kesembuhan yang total bisa betul-betul terjadi.
B.     Mengadakan Razia Minum minuman keras
Kejahatan sangat sadis yang menteror masyarakat akibat beredarnya minuman keras terjadi di mana-mana. Mayat bergelimpangan akibat minum bahkan pesta minuman keras pun berulang-ulang terjadi di mana-mana.
Anehnya, selama ini pihak yang paling bertanggung jawab tampaknya tidak merasa kecolongan, dengan bukti masih berkali-kalinya terulang dan terulang lagi peristiwa yang menteror masyarakt dan merenggut nyawa di mana-mana itu.
Di samping tampaknya tidak merasa kecolongan, belum pula diadakan instruksi yang menasional untuk membasmi terror miras itu, dan tidak terdengar diubernya biang terror berupa miras sampai ke pabrik dan hulunya. Hanya saja masih agak mending, kadang terdengar adanya sekian botol miras yang disita dari para pedagang. Operasi miras tempo-tempo yang hanya masa-masa tertentu misalnya menjelang Ramadhan itu tidak begitu mengurangi terror miras terhadap masyarakat, baik berupa merenggut nyawa maupun aneka kejahatan yang mengerikan.




























BAB  III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Kebiasaan minum-minuman keras dapat mengakibatkan kecanduan. Kekurangan, kesalahan, dan masalah seseorang dapat dilipat-gandakannya, bahkan sering pula diikuti oleh perubahan kepribadian. Walaupun ketika berada di bawah pengaruh alkohol, orang bersangkutan dapat merasa mantap, namun sebenarnya dia tidak dewasa, merasa tidak aman dan dihantui oleh rasa bersalah dan depresi. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres dalam dirinya. Karena tidak dapat menghadapi keterikatannya pada alkohol dengan masalah-masalah yang dimunculkannya, dia menyangkal bahwa dia bermasalah. Dalam usaha menutupi problema alkoholnya, dia bertindak tidak jujur, melontarkan kesalahan pada anggota keluarganya, bosnya, sahabatnya atau nasib buruk yang menimpa hidupnya. Kecenderungan berbelit-belit dan berpura-pura ini menimbulkan kehidupan serupa sandiwara, kadang- kadang malah seperti lelucon walaupun tragis. Seorang pecandu alkohol sangat memerlukan pertolongan. Tetapi  biasanya, sebelum orang bersangkutan mengalami pukulan hidup yang menggoncangkan, sukar sekali diharapkan perubahan.
Begitu dahsyatnya pengaruh miras terhadap diri seseorang (seperti kasus-kasus sangat merisaukan masyarakat yang akan diungkap di tulisan ini), maka tidak ada alasan untuk membiarkan berbagai miras beredar. Korban miras jauh lebih besar dari korban terorisme. Oleh karena itu, sudah sepantasnya operasi miras dilakukan secara lebih seru sebagaimana operasi melawan terorisme. Miras bukan sekadar merusak raga, otak, jiwa pelakunya belaka, tetapi merusak orang-orang yang dijadikan korbannya. Entah itu perkosaan, pembunuhan, ataupun pencurian dan kejahatan lainnya.
B.     Saran
Demikian makalah ini disusun, semoga dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Dan semoga masyarakat dapat meramu perilaku-perilaku yang tidak baik dalam berbangsa dan bernegara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar